![]()
Deli Serdang –Bupati Deli Serdang dr. Asri Ludin Tambunan kini sedang gencar menjalankan program yang telah ditetapkan dalam Peraturan Daerah, demi mewujudkan wilayah yang tertib, teratur, dan patuh terhadap peraturan baik dari pemerintah daerah maupun pemerintah pusat.
Namun di tengah upaya penertiban tersebut, ada kisah pilu yang dialami Soliadi, warga Dusun Pagar Merbau I Kecamatan Pagar Merbau Kabupaten Deli Serdang. Ia memiliki satu unit rumah yang telah ia bangun dan dihuni bersama keluarga sebagai tempat tinggal satu-satunya. Namun kini hatinya terus terasa tersiksa dan sedih mendengar kabar bahwa rumah yang menjadi tempat berteduhnya itu terancam akan dibongkar, dengan alasan belum memiliki izin Persetujuan Bangunan Gedung (PBG).
“Sabtu, 23 Mei 2026 lalu, saya kedatangan tamu dari berbagai elemen dan aliansi. Mereka datang meninjau, memotret, dan banyak bertanya soal status serta kepemilikan rumah saya. Belum lama itu, tepatnya minggu lalu, tim dari Satpol PP Kabupaten Deli Serdang bersama pejabat dan staf Kecamatan Pagar Merbau juga datang ke rumah. Saat itu saya sedang tidak ada di rumah, hanya istri saya yang menyambut kedatangan mereka. Mereka menanyakan legalitas bangunan dan izin PBG. Begitu cerita istri saya dengan mata berkaca-kaca,” ungkap Soliadi dengan nada lirih dan penuh kesedihan.
Ia melanjutkan, “Saya sadar dan saya akui, sebagai warga negara yang baik saya selalu berusaha mendukung dan mematuhi segala aturan yang dibuat pemerintah. Saya tidak menyangkal, rumah ini memang belum memiliki izin PBG, dan seluruh biaya pembangunannya pun murni dari keringat dan uang pribadi saya. Tapi apakah hanya karena soal izin itu, nasib saya dan keluarga harus dihancurkan? Apakah keputusannya sudah mutlak harus dibongkar? Apakah rasa empati dan rasa kemanusiaan sudah tidak ada lagi bagi kami? Kalau rumah ini dirobohkan, lantas saya dan keluarga harus tidur di mana? Apakah kami akan disuruh menumpang di rumah dinas Bapak Kasatpol PP atau di kediaman Bapak Bupati? Saya memohon dengan segala kerendahan hati, tolong beri saya kesempatan dan waktu untuk mengurus izin tersebut, jangan langsung memutus nasib kami,” keluhnya dengan suara tertahan.
Air mata tampak tidak terbendung saat ia menyampaikan harapan terakhirnya kepada pemimpin yang pernah ia pilih dan percayai.
“Kalau memang sudah tidak ada jalan lain, mau apa lagi kami selain pasrah menerima nasib yang pahit ini. Namun izinkan saya memohon kepada Bapak Bupati terhormat dr. Asri Ludin Tambunan – pemimpin yang saya dan keluarga pilih saat Pemilihan Kepala Daerah lalu. Bapaklah harapan kami, bapak yang kami percaya akan membawa keadilan. Tolong, jangan hancurkan tempat berlindung kami, kami tidak tahu lagi harus ke mana.
Permohonan terakhir saya, Bapak…!! kalau memang harus dibongkar karena tidak ada izin, tolong jangan tebang pilih. Bongkar semuanya sama rata. Mulai dari sepanjang jalan setelah Mapolsek Pagar Merbau sampai ke arah Puskesmas lama, begitu juga Puskesmas baru dan Kantor Camat Pagar Merbau. Bangunan-bangunan itu temboknya sudah meluas hingga memakan bahu jalan milik PU Provinsi Sumatera Utara. Kalau aturan harus ditegakkan, tegakkan untuk semua, jangan hanya rakyat kecil seperti saya yang menjadi korban. Kami hanya minta keadilan yang sama,” tutupnya sambil menunduk pasrah.
Sementara itu, Kuasa Hukum dari LMHAI yang mendampingi Soliadi saat ditemui awak media pada Senin, 25 Mei 2026 menyampaikan sikapnya:
“Klien kami telah menceritakan seluruh kesedihan dan ketakutan yang ia rasakan kepada kami. Kami akan mendampingi dan membela hak-haknya sesuai jalur hukum dan peraturan yang berlaku. Kami berharap keadilan benar-benar ditegakkan, tidak ada diskriminasi, dan pihak berwenang mau memberikan jalan keluar yang manusiawi bagi keluarga ini,” tegasnya.
*Soliadi dan Keluarga Memohon :*
“Bapak Bupati yang kami hormati… Bapak adalah pemimpin yang kami pilih, pemimpin yang kami percaya akan membawa kebaikan dan keadilan bagi kami. Kami yakin di hati Bapak masih tersimpan rasa kasih sayang, belas kasih, dan jiwa kemanusiaan yang luhur. Kami bukan bermaksud melawan aturan, kami hanya rakyat kecil yang ingin punya tempat berteduh, tempat berkumpul bersama anak istri, tempat kami menumpahkan keringat dan air mata untuk bertahan hidup.
Jangan biarkan kami terlantar di jalanan, jangan biarkan kami kehilangan segalanya hanya karena satu kekurangan yang sebenarnya masih bisa diperbaiki. Berikan kami kesempatan untuk melengkapi segala persyaratan, berikan kami jalan keluar yang manusiawi. Kami pasrahkan nasib kami, masa depan keluarga kami, seluruhnya di tangan Bapak. Semoga suara kecil ini sampai ke telinga dan menyentuh hati nurani Bapak, agar Bapak mau menurunkan tangan kasih Bapak dan menyelamatkan kami dari kesengsaraan yang bakal menimpa. Doa kami selalu menyertai langkah Bapak, semoga Allah SWT senantiasa memberikan petunjuk, kekuatan, dan kebijaksanaan yang terbaik untuk memimpin kami semua.”
(LB)
